Beberapa penelitian menunjukkan jejaring sosial tidak hanya menyebabkan kejahatan serta maraknya pesan bernada seksualitas. Jejaring sosial juga mengubah perilaku manusia.
Hubungan pertemanan anak muda ataupun remaja, semakin erat dengan interaksi melalui SMS atau pesan instan, serta melalui forum dengan cakupan sangat luas, dinding Facebook atau buletin MySpace.
Lembaga pemantau internet AS, The Pew Resaerch Center pekan lalu menemukan setengah dari jumlah remaja Amerika usia 12 hingga 17 tahun mengirim 50 atau lebih pesan SMS setiap harinya. Sementara sepertiga di antaranya mengirim lebih dari 100 pesan SMS setiap hari.
Sebanyak dua pertiga dari para remaja yang disurvei mengatakan mereka lebih suka menggunakan ponsel untuk mengirim pesan dibandingkan menelepon. Sebanyak 44% remaja berkirim pesan setiap harinya, dibandingkan hanya 33% yang berbicara tatap muka.
Penemuan ini muncul hanya beberapa bulan setelah Kaiser Family Foundation melaporkan, remaja berusia 8 hingga 18 tahun menghabiskan 7,5 jam setiap harinya dengan perangkat elektronik mereka, dari ponsel, pemutar musik MP3 hingga komputer.
Yang mengejutkan, rata-rata orang dewasa yang memiliki BlackBerry menyimpan perangkat tersebut dalam jangkauan di sebagian besar waktu mereka. Psikolog dan beberapa ahli mulai mencari tahu kemungkinan teknologi mengubah perilaku alamiah pertemanan anak-anak.
“Secara umum, kekhawatiran menyangkut gangguan cyber dan sexting telah membayang-bayangi alur teknologi ini di mana berdampak pada unsur kedekatan dari sebuah persahabatan,” kata Jeffrey G Parker, profesor psikologi di University of Alabama , yang telah mempelajari model pertemanan anak-anak sejak 1980. “Kita baru melihat perubahan-perubahan yang halus.”
Dalam jurnal The Future of Children yang dibuat atas kolaborasi antara Brookings Institution dan Woodrow Wilson Center di Princeton University, Kaveri Subrahmanyam dan Patricia M Greenfield psikolog dari California State University, Los Angeles dan UCLA mengeluarkan sebuah kesimpulan awal
“Bukti kualitatif awal dari kemudahan komunikasi elektronik mungkin membuat para remaja kurang tertarik dengan komunikasi tatap muka. Beberapa penelitian dibutuhkan untuk melihat lagi bagaimana perkembangan fenomena ini dan apa dampak dari tindakan ini kepada kualitas emosional dari hubungan tersebut.”
Pertanyaan ini penting karena kedekatan persahabatan antar anak-anak akan membantu mereka membangun kepercayaan dengan orang di sekitar mereka selain keluarga, serta menjadi dasar bagi hubungan yang sehat saat mereka dewasa.
“Hubungan yang baik dan dekat sangat penting karena membantu anak-anak mengembangkan ketenangan dan memungkinkan bermain dengan emosi mereka, mengekspresikan emosi dan segala fungsi yang dibutuhkan untuk mendukung hubungan yang lebih dewasa,” kata Profesor Parker.
Apa yang dilihat peneliti adalah terjadi perubahan dari hubungan anak-anak ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. “Saat kita muda, kita mungkin berkomunikasi lewat telepon dengan satu orang,” kata Lori Evans, psikolog di New York University , Child Study Center . Saat ini, pesan instan telah jadi sarana komunikasi berkelompok. “Facebook bukan percakapan,” tambahnya.
Remaja saat ini bisa jadi kehilangan pengalaman yang membantu mereka mengembangkan perasan empati, emosi saling pengertian, dan membaca isyarat tubuh seperti ekspresi muka dan bahasa tubuh.
Banyak peneliti percaya dengan obsesi teknis dimulai sejak mereka berusia sangat muda, bahkan anak TK saat ini telah bermain dengan laptop. Akibatnya, kemampuan otak untuk mengulang ingatan dan keterampilan positif tadi akan memudar.
Gary Small, ahli neuron dan profesor psikiater dari UCLA pengarang iBrain: Surviving the Technological Alteration of the Modern Mind percaya bahwa apa yang disebut digital natives sebagai bagian penggunaan komputer telah menjadi waktu yang sulit bagi perkembangan proses pembacaan isyarat sosial.
“Meskipun kemampuan anak muda dengan digitalisasi sangat baik bagi kemampuan teknologi, mereka akan mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan tatap muka ke depannya.”
Namun di lain pihak, ada beberapa studi yang menganggap bahwa teknologi malah membantu anak-anak lebih dekat dengan yang lain dibandingkan sebelumnya.
Elizabeth Hartley-Brewer, pengarang buku yang diterbitkan tahun lalu berjudul Making Friends: A Guide to Understanding and Nurturing Your Child’s Friendships percaya bahwa teknologi telah memungkinkan anak-anak terkoneksi dengan temannya sepanjang waktu. “Saya rasa ini bisa dikatakan bahwa media elektronik telah membantu anak-anak untuk saling berhubungan dengan lebih lama”.
Namun Laura Shumaker, ibu dari 3 anak di distrik Bay Area mengatakan, Jon anaknya yang berusia 17 tahun telah menjalin hubungan teman terlalu banyak lewat Facebook. Jon menjadi lebih menarik diri dan gelisah dengan interaksi tatap muka.

0 comments

Post a Comment

,