Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts


"Nama saya Salmon, seperti nama Ikan. Nama depan: Susie. Saya 14 tahun saat dibunuh pada 6 Desember 1973. Saya tidak hilang. Saya hidup di duniaku sendiri yang sempurna. Tapi, di hatiku, aku tahu dunia itu tidak sempurna. Pembunuhku masih menghantuiku. Ayahku tak mampu mengatasinya. Aku menunggu keadilan, tapi keadilan belum juga tiba."

Inilah salah satu dialog pembuka film The Lovely Bones, karya terbaru Peter Jackson yang adalah adaptasi dari novel karya Alice Sebold. Peter Jackson yang gila CGI, khususnya sejak The Frighteners, menciptakan sendiri dunia fantasi antara kehidupan dan kematian. Sutradara Bad Taste, The Lord of the Ring dan King Kong itu adalah salah satu rajanya menciptakan semesta fiksinya sendiri dengan segala aturannya.

Dari awal kita sudah dijelaskan bahwa sang tokoh utama, Susie Salmon (diperankan oleh Saoirse Ronan yang sebelumnya sukses lewat Atonement), wafat. Dan ketika Susie 'menjebakkan diri' di dunia antara dan enggan ke surga, kita disuguhi pemandangan penyedap mata.

Mata penonton dimanja oleh keindahan lanskap dunia alam barzakh–dunia antara bumi dan langit, antara dunia dan akhirat. Dan adegan-adegan di dunia fantasi dan dunia nyata itu saling berpagut, berselang-seling, dengan aturannya sendiri. Lihat bagaimana ilalang cokelat berubah menjadi samudera, dengan Susie ada di tengah, di dalam pendopo. Atau kapal-kapal mini di dalam botol yang dipecahkan sang ayah menjadi kapal-kapal raksasa yang terdampar di pulau terpencil—persis seperti lirik lagu 'Message in the Bottle' dari The Police.

Film ini seolah mengingatkan kembali pada awal mula sinema tercipta: the magic of motion picture. Kala itu, film dianggap sebagai sihir yang memukau dan membuka segala kemungkinan imajinasi.

Dari awal sudah dijelaskan bahwa sang tokoh utama kita akan dibunuh oleh tetangganya. Tapi bukan itu inti permasalahannya. Ini bukan spoiler, karena ketegangan tidak berasal dari situ. Ini bukan semata film misteri mencari pembunuhnya, atau tentang nilai-nilai keluarga, tapi lebih kepada pengalaman menonton dan bagaimana pemirsa hanyut dalam cerita.

Salah satu keungulannya adalah film ini menyentuh tombol-tombol emosi. Penonton terbawa oleh cerita, ikut merasakan perasaan. Silakan lihat bagaimana Salmon yang naksir kakak kelasnya, Ray Singh (Reece Ritchie), tiba-tiba ditegur dan bahkan diajak berkencan oleh pujaannya itu.

Ketegangan lain, misalnya kala ia bertemu dengan pembunuh yang adalah tetangganya yang kesepian. Sang pembunuh, George Harvey, diperankan oleh Stanley Tucci dan mendapat banyak pujian dan penghargaan. Sedangkan Saoirse sebagai Susie juga tidak kalah aktingnya. Kabarnya, saat Saoirse mengirimkan rekaman audisinya, pihak produser sangat terkesan hingga mereka langsung memberikannya peran utama, tanpa harus ada rapat atau audisi lagi. Satu tokoh lagi yang menarik adalah Susan Sarandon yang memerankan Nenek Lynn.

Dan film ini tidak terjebak pada formula setan gentayangan atau roh yang membalas dendam. Satu lagi, ada semacam kegilaan Jackson pada hal-hal mini (replika kapal dalam botol, rumah boneka), mungkinkah akibat pengaruh menggarap Hobbit? Banyak sekali yang mengkritik pedas film ini, tapi saya agak berbeda.

Ekplorasi imaginasi yang menyentuh emosi. Apa lagi yang diharapkan dari sebuah pengalaman sinematis asyik selain itu? Apalagi bagi Anda yang percaya akhirat yang katanya belum pernah dilihat, didengar, oleh manusia, itu memang ada.


"Nama saya Salmon, seperti nama ikan. Nama depan: Susie. Saya 14 tahun ketika dibunuh pada 6 Desember 1973. Saya di sini untuk sementara, kemudian saya pergi. Saya berharap kalian semua menjalani kehidupan yang panjang dan bahagia.


Ada yang menarik dari tulisan ridyasmara di situs eramuslim.com menanggapi seputar kontroversi film 2012. Saya sangat setuju dengan ulasan tersebut. Saya memang belum menonton film besutan Roland Emmerich ini, karena seperti yang saya tulis sebelumnya saya menunggu rilis DVD atau VCDnya.



Berikut tulisan dari eramuslim.com yang saya copy hanya sebagian saja



Jarum jam baru menunjuk angka 11 kurang sedikit. Mega Bekasi XXI, gedung bioskop dengan tujuh ruang pertunjukan, yang berada di lantai V Mega Bekasi Hyper Mall yang terletak di depan pintu tol Bekasi Barat belum dibuka pintunya. Namun ratusan orang tua-muda sudah memadati halaman depan yang sempit. Walau ruangan memiliki fasilitas air-conditioner, namun udara tetap terasa gerah. Saking penuhnya, tidak ada tempat untuk sekadar duduk meluruskan kaki.




Pukul 11.05 wib, tiga pintu kaca serentak dibuka. Ratusan penonton berhamburan saling-berlomba antri di depan loket tiket yang juga masih tutup. Antrean mengular jauh ke belakang. Salah seorang petugas keamanan kepada eramuslim.com mengaku jika jumlah penonton film “2012” besutan sutradara Hollywood kelahiran Jerman, Rolland Emerich, memecahkan rekor jumlah penonton selama ini.



“Jumlah penonton Harry Potter dan Laskar Pelangi yang banyak itu belum ada apa-apanya dibanding antusiasme penonton sekarang yang ingin menyaksikan film 2012 itu,” ujar petugas bioskop sambil mengatur antrean yang kian panjang.



Membludaknya jumlah penonton yang ingin menyaksikan film yang biaya produksinya menelan biaya US $260 juta ini bukan hanya terjadi di Mega Bekasi XXI saja, namun nyaris terjadi di semua gedung bioskop yang memutarnya di seluruh dunia. Wajar saja jika dalam hitungan hari, laba yang diraup oleh produsernya amat banyak. Hanya dalam waktu tiga hari, film yang dibintangi aktor John Cusack ini nyaris sudah mendekati break event point, yakni meraup pendapatan sebesar US $225 juta.



Menurut hemat penulis, gegar film 2012 sebenarnya mengherankan karena film ini tidak beda jauh dengan film-film bertema sama yang lebih dahulu tayang seperti film The Day After Tomorrow (2004) dan Knowing (2009). Hanya saja patut diakui jika di film 2012, spesial efeknya memang lebih canggih ketimbang film-film lainnya. Sedangkan alur cerita dan plot bisa dibilang tidak ada yang baru.



Sebab itu, antusiasme penonton di seluruh dunia terhadap film ini sangat mungkin lebih disebabkan kontroversi tema yang menjadi fokus utama dari film yang digarap selama enam bulan di Vancouver-Kanada tersebut ketimbang isi filmnya sendiri. Apalagi ditambah dengan adanya segelintir tokoh masyarakat yang terprovokasi dengan film biasa ini dan menyerukan agar pemerintah melarang pemutarannya, seperti yang terjadi di Malang, Jawa Timur.



Padahal kita sudah ketahui bersama, jika logika masyarakat kita sekarang ini “rada aneh”: semakin dilarang, maka produk itu semakin dicari dan makin laku. Larangan hanya akan menambah popularitas film ini sendiri. Hasilnya justru akan kontraproduktif.



Dan satu lagi, ada logika yang “tidak nyambung” di sini. Film 2012 jelas-jelas dibuat oleh Hollywood yang notabene bukan diproduksi oleh sineas-sineas Muslim, jadi pangsa pasarnya ya pangsa pasar sekular, demikian juga visi dan misinya. Adalah amat naif jika kita mengharapkan film yang dibuat oleh kaum kufar tersebut bisa mengandung nilai-nilai Islam. Orang-orang kufar akan dengan mudah menjawab, “Mengapa kalian bisanya mencela tapi tidak bisa berkarya seperti kami?” Kita harus berendah hati untuk mengakui jika kita memang tertinggal sangat jauh dalam hal penguasaan teknologi perfilman dibandingkan dengan mereka, juga dalam banyak bidang lainnya.



Jika pun yang harus disalahkan dengan lolosnya film-film yang dianggap tidak benar di negara ini, maka bukan film dan produsernya yang harus digugat, tetapi para pejabat di negara ini yang membawahi dan bertanggungjawab atas peredaran film di Indonesia-lah yang harus dimintai keterangannya, mungkin masyarakat harus meminta keterangan kepada Menkominfo atau Menbudpar.

Sumber : eramuslim.com



Anda pasti sudah mendengar soal kisah kiamat di tahun 2012. Kalau belum cari dan tanyakanlah sama Mbak Google. Bahkan Februari lalu di media televisi hal ini sudah ramai dibicarakan .



Entah ada hubungannya atau tidak, kita tahu pula sutradara kondang Roland Emmerich sudah selesai menggarap film berjudul 2012 yang rencananya akan dirilis tanggal 13 Nopember ini.




Saya asli penggemar film. Boleh-boleh saja orang menghubungkan soal kiamat ini dengan "habis" nya kalender maya, atau juga bergesernya medan magnet bumi. Juga soal siklus badai matahari. Toh itu semua cuma opini manusia atau bahkan juga mungkin cuma hoax. Saya hanya menikmati filmnya saja, tak lebih. Saya penggemar Roland Emmerich sutradara kelahiran Stuttgart, Jer­man, 10 November 1955 ini. Lihat saja film besutannya yang sukses besar seperti Independence Day (1996) dan The Day After Tomorrow (2004). Trailer film 2012 sudah ada di youtube . Suka? Tunggu saja tanggal 13 Nopember nanti. Salam!