
"Itu adalah sikap diskriminatif dan rekayasa pemerintah. Terbukti tidak ada alasan yang masuk akal yang bisa dibuktikan. Pemerintah hanya paranoid pada teroris," kata Ketua MMI Yogyakarta Irfan S. Awwas dalam keterangan pers di pondoknya, Rabu (19/8).
Air dan Eko tewas ditembak Tim Densus 88 pada 7 Agustus. Keduanya terpaksa ditembak, kata Bambang Hendarso, karena hendak menyerang aparat dengan bom pipa. Selain menemukan bahan bom seberat 500 kilogram, polisi juga mendapati dokumen sasaran peledakan bom, yaitu SBY.
Menurut Irfan, terlalu mengada-ada jika kediaman seorang Presiden menjadi sasaran pengeboman. Dugaan yang ditujukan kepada Air dan Eko hanyalah akal-akalan. Mereka anak muda yang tidak tahu-menahu soal teroris. Selain itu, penjagaan di kediaman Presiden tentulah sangat kuat dan mustahil akan dilakukan kedua anak tersebut.
Yang aneh, kata Irfan, Air dan Eko dikabarkan ditembak di Jatiasih pada Jumat sore. Padahal pada Jumat pagi masih di Solo. "Air dan Eko itu korban rekayasa. Masak pagi masih di Solo, tiba-tiba sudah di Bekasi sore harinya dan telah merencanakan pengeboman terhadap Presiden!," kata Irfan.
Terkait sikap pemerintah tersebut, MMI menantang intelijen negara untuk debat terbuka terkait terorisme. Siapapun mereka. Irfan menyebut mantan Kepala BIN Hendropriyono, juga Amsad Emkay dan Anton Tabah. "Jangan sampai isu terorisme ditanggapi sepihak, harus ada debat terbuka," tantang Irfan.
No comments:
Post a Comment