Ada yang menarik dari tulisan ridyasmara di situs eramuslim.com menanggapi seputar kontroversi film 2012. Saya sangat setuju dengan ulasan tersebut. Saya memang belum menonton film besutan Roland Emmerich ini, karena seperti yang saya tulis sebelumnya saya menunggu rilis DVD atau VCDnya.



Berikut tulisan dari eramuslim.com yang saya copy hanya sebagian saja



Jarum jam baru menunjuk angka 11 kurang sedikit. Mega Bekasi XXI, gedung bioskop dengan tujuh ruang pertunjukan, yang berada di lantai V Mega Bekasi Hyper Mall yang terletak di depan pintu tol Bekasi Barat belum dibuka pintunya. Namun ratusan orang tua-muda sudah memadati halaman depan yang sempit. Walau ruangan memiliki fasilitas air-conditioner, namun udara tetap terasa gerah. Saking penuhnya, tidak ada tempat untuk sekadar duduk meluruskan kaki.




Pukul 11.05 wib, tiga pintu kaca serentak dibuka. Ratusan penonton berhamburan saling-berlomba antri di depan loket tiket yang juga masih tutup. Antrean mengular jauh ke belakang. Salah seorang petugas keamanan kepada eramuslim.com mengaku jika jumlah penonton film “2012” besutan sutradara Hollywood kelahiran Jerman, Rolland Emerich, memecahkan rekor jumlah penonton selama ini.



“Jumlah penonton Harry Potter dan Laskar Pelangi yang banyak itu belum ada apa-apanya dibanding antusiasme penonton sekarang yang ingin menyaksikan film 2012 itu,” ujar petugas bioskop sambil mengatur antrean yang kian panjang.



Membludaknya jumlah penonton yang ingin menyaksikan film yang biaya produksinya menelan biaya US $260 juta ini bukan hanya terjadi di Mega Bekasi XXI saja, namun nyaris terjadi di semua gedung bioskop yang memutarnya di seluruh dunia. Wajar saja jika dalam hitungan hari, laba yang diraup oleh produsernya amat banyak. Hanya dalam waktu tiga hari, film yang dibintangi aktor John Cusack ini nyaris sudah mendekati break event point, yakni meraup pendapatan sebesar US $225 juta.



Menurut hemat penulis, gegar film 2012 sebenarnya mengherankan karena film ini tidak beda jauh dengan film-film bertema sama yang lebih dahulu tayang seperti film The Day After Tomorrow (2004) dan Knowing (2009). Hanya saja patut diakui jika di film 2012, spesial efeknya memang lebih canggih ketimbang film-film lainnya. Sedangkan alur cerita dan plot bisa dibilang tidak ada yang baru.



Sebab itu, antusiasme penonton di seluruh dunia terhadap film ini sangat mungkin lebih disebabkan kontroversi tema yang menjadi fokus utama dari film yang digarap selama enam bulan di Vancouver-Kanada tersebut ketimbang isi filmnya sendiri. Apalagi ditambah dengan adanya segelintir tokoh masyarakat yang terprovokasi dengan film biasa ini dan menyerukan agar pemerintah melarang pemutarannya, seperti yang terjadi di Malang, Jawa Timur.



Padahal kita sudah ketahui bersama, jika logika masyarakat kita sekarang ini “rada aneh”: semakin dilarang, maka produk itu semakin dicari dan makin laku. Larangan hanya akan menambah popularitas film ini sendiri. Hasilnya justru akan kontraproduktif.



Dan satu lagi, ada logika yang “tidak nyambung” di sini. Film 2012 jelas-jelas dibuat oleh Hollywood yang notabene bukan diproduksi oleh sineas-sineas Muslim, jadi pangsa pasarnya ya pangsa pasar sekular, demikian juga visi dan misinya. Adalah amat naif jika kita mengharapkan film yang dibuat oleh kaum kufar tersebut bisa mengandung nilai-nilai Islam. Orang-orang kufar akan dengan mudah menjawab, “Mengapa kalian bisanya mencela tapi tidak bisa berkarya seperti kami?” Kita harus berendah hati untuk mengakui jika kita memang tertinggal sangat jauh dalam hal penguasaan teknologi perfilman dibandingkan dengan mereka, juga dalam banyak bidang lainnya.



Jika pun yang harus disalahkan dengan lolosnya film-film yang dianggap tidak benar di negara ini, maka bukan film dan produsernya yang harus digugat, tetapi para pejabat di negara ini yang membawahi dan bertanggungjawab atas peredaran film di Indonesia-lah yang harus dimintai keterangannya, mungkin masyarakat harus meminta keterangan kepada Menkominfo atau Menbudpar.

Sumber : eramuslim.com



Saat ini tengah santer kabar tentang kehancuran bumi yang disebutkan akan terjadi pada 12 Desember 2012. Bahkan sebuah film berjudul "2012" yang diklaim didasarkan pada analisis ilmiah tengah akan segera diputar. Salah satu alasan yang paling sering disebut adalah adanya perhitungan menurut kalender Suku Maya bahwa pada tahun tersebut akan terjadi kiamat yang ditandai kerusakan dahsyat di bumi. Benarkah?


Meski mengatasnamakan ramalan Suku Maya, baru-baru ini Apolinario Chile Pixtun, tetua Suku Maya justru menampik. Ia mengatakan hal tersebut hanya gambaran orang-orang Barat dan bukan berasal dari suku mereka. Bahkan jika sukunya ditanyakan apakah mengerti benar hal tersebut, mereka justru tidak mengetahuinya. Keraguan ini diperkuat dengan data pada stone tablet (tablet batu), yang menjadi dasar argumentasi kiamat, tidak terbaca semua karena ada bagian yang terlewatkan. Hal serupa juga dikatakan David Stuart, seorang peneliti Suku Maya dari Universitas Texas, Amerika Serikat. Baginya, ramalan kiamat 2012 tak berdasar. "Suku Maya tidak hendak mengatakan dunia akan berakhir, namun sekadar merekam ulang tahun penciptaan," ujarnya.




Namun, kabarnya, suku Maya masih menyimpan satu lagi rahasia, yaitu seputar perubahan jajaran bintang setiap 25.800 tahun. Pada saat itu, matahari akan sejajar dengan pusat Galaksi Bima Sakti dan itu akan terjadi pada tanggal 21 Desember 2012. Sejumlah astronom mengatakan fenomena tersebut tak akan banyak berpengaruh pada bumi, tapi astronom lain tak sependapat, mereka mengatakan banyak pengaruh yang akan terjadi pada bumi jika fenomena itu terjadi. "Jika kita ingin menghormati apa yang dipikirkan Suku Maya, kita akan mengatakan Suku Maya memandang tahun 2012 sebagai siklus akhir dan masa transformasi kembali," kata John Major Jenkins, seorang penulis.



Meski demikian, orang yang pertama kali membahas masalah ini Brasseur de Bourbourg mengatakan, Barat telah banyak menyematkan skenario kehancuran bumi pada Suku Maya, meski jarang menguji kenyataan saat ini dengan prediksi tersebut. Jika demikian mana yang benar?



Sumber: Liputan6.com



Pengakuan mengejutkan Wiliardi Wizar terkait kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Narsrudin. Bola panas itupun bergerak liar. Sejumlah nama petinggi Polri mencuat. Siapa sebenarnya Wiliardi Wizar. Berikut profilnya yang diambil dari berbagai sumber.



Wiliardi Wizar lahir di Sibolga, Sumatra Utara 22 Maret 1960. Pria lulusan Akabri tahun 1984 ini, pernah menjabat kapolres 3 kali. Masing-masing Kapolres Kupang, NTT (2001), Kapolres Tangerang Banten (2002) dan Kapolres Jakarta Selatan (2005-2007). Jabatan terakhir ketika kasus ini bergulir adalah Kasubdit Pariwisata Ditpam Obsus Babinkam Mabes Polri.




Sama seperti Antasari, ia pun seorang penegak hukum, yang kali ini harus berhadapan dengan masalah hukum yang begitu besar. Pembunuhan berencana! Sebagai seorang perwira polisi, Willy adalah kader yang berprestasi. Jika saja ia tak tersandung kasus ini, pada bulan Juli nanti jabatan direktur di Mabes Polri sudah menantinya. Setelah tamat menempuh pendidikan di Sekolah Staf Perwira Tinggi Mabes Polri akhir tahun lalu, ia segera menyandang pangkat brigadir jenderal untuk jabatan tadi.



Karier manis Willy ini terus memuncak setelah keberhasilannya mengungkap pabrik pembuat pil ekstasi terbesar di Indonesia, bulan April 2002. Kala itu, ia menjabat sebagai Kapolres Metro Tangerang, tempat pabrik itu berlokasi.



Di mata anak buah Wiliardi dikenal sebagai pemimpin yang baik. “Waktu Pak Willy bertugas di sini, dia menjabat dengan baik dan memerhatikan para bawahannya. Tidak pernah ada pemotongan insentif lagi, biasanya pada pimpinan sebelumnya ada saja pemotongan dari insentif yang turun,” kata Ridho (nama samaran), seorang perwira yang kini masih bertugas di Polres Jaksel.



Selain itu, Willy juga tidak pandang bulu dalam bergaul. Mulai dari para perwira sampai polisi yang pangkatnya masih rendah pasti di-”rangkul” olehnya. “Pak Willy baik dengan bawahannya, pernah waktu itu kami semua makan nasi bungkus bersama-sama, Pak Willy pun ikut gabung, dia enggak ngerasa risih,” kenang Ridho.



Kepada Kompas.com, Ridho juga menuturkan, saat menjabat, Willy memberikan banyak kelonggaran kepada jajarannya. Ia memberikan contoh kecil, pintu di dekat pelayanan SIM biasanya tertutup dan tidak boleh dilewati oleh siapa pun. Namun, pada saat Willy menjabat, pintu tersebut dibuka sehingga pelayanan bagi warga lebih mudah.



Tak hanya itu, Willy juga tidak pernah melakukan intervensi kepada bawahannya. Ia lebih menekankan pada pelayanan masyarakat. Saat apel pagi pun Willy tidak pernah berlama-lama memberikan arahan kepada bawahannya. “Jika pemimpin lain bisa melakukan apel itu paling tidak setengah jam, kalau Pak Willy paling lama hanya 15 menit. Apelnya pun tidak setiap hari, seminggu tiga kali saja,” ujar Ridho lagi.



Hal senada juga diungkapkan oleh Panji (juga nama samaran) semasa menjabat Willy memang dekat dengan bawahannya. “Hubungan Pak Willy dan bawahan, seperti anak bapak,” ujar Kasat salah satu bagian di Polres Jaksel ini.



Namun, lain halnya dengan pendapat wartawan. Wiliardy dikenal sebagai sosok yang tertutup, ia hanya muncul pada kasus yang besar. Ia terakhir berbicara pada saat terjadi kasus pembunuhan dua anggota ormas kedaerahan yang terjadi di Kebayoran. Kasus-kasus lain biasanya akan dia lempar pada Helmi Santika, Kasat Reskrim pada waktu itu.



Nah, kini bersama delapan tersangka lain, Wiliardi Wizar ditangkap untuk kasus pembunuhan berencana, yang bukan lagi menjadi istilah baru bagi Willy. Akankah ini menjadi akhir perjalanan karier perwira ini? Atau kursi direktur di Mabes Polri tetap terbuka baginya?



Setidaknya, Kepala Divisi Humas (Kadiv Humas) Mabes Polri Irjen Abubakar Nataprawira masih mengatakan bahwa nasib koleganya ini baru akan ditetapkan jika sudah ada putusan pengadilan.



Ary Muladi, pria kelahiran Surakarta, 1 November 1954 ini menjadi pusat pemberitaan media belakangan ini. Dia menjadi tokoh sentral di pusaran kasus yang menimpa Pimpinan (nonaktif) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah.



Bagaimana tanggapan orang-orang yang pernah mengenal ayah dari tiga anak ini. Berikut penuturannya.



"Ya, usianya sekitar 53 tahun. Saya mengenal dia semasa berbisnis di Surabaya tahun 1984," kata pengusaha asal Surabaya yang kini menetap di Jakarta yang enggan disebutkan jati dirinya.



Ia bersama Ary, saat itu menjadi rekanan (pemborong) proyek-proyek Pemkot Surabaya saat kota Pahlawan dipimpin Wali Kota Purnomo Kasidi (alm).



"Orangnya tampan, `cool`, berkumis dan selalu berpakain `modis`, ramah dan enak kalau diajak bicara, segala hal. Saya tidak menyangka, kini ia jadi `markus` (makelar kasus) tingkat tinggi ," ucapnya sambil tersenyum.



Menurut dia, Ary yang supel tersebut memang sering juga berperan sebagai perantara bagi pengusaha lain dalam mengurus perizinan di Pemkot Surabaya.



Jajarang pejabat di Pemkot maupun Polwiltabes Surabaya hingga Polda Jatim banyak yang mengenal dia, sehingga tidak salah bila pebisnis yang berurusan dengan tiga lembaga tersebut, selalu menggunakan jasa Ary.



"Ary dulu sebenarnya pesaing saya dalam berbisnis, karena lingkup usaha dijalani sama. Namun, dalam urusan `membantu` masalah perijinan, saya nggak ikut-ikut. Bukan ranah saya," tuturnya.



Pengusaha yang kini telah "pensiun" itu menuturkan bahwa bila ia hijrah ke Jakarta pada awal 1990-an, Ary menyusul tinggal di Jakarta tahun 2000-an.



"Wah sekarang susah kontak dia, telepon rumah, HP maupun HP milik istrinya (Murti) mati semua. Ya minimal, tadinya saya ingin kontak dia untuk `meringankan` beban, membantu secara moral. Tapi dihubungi saja nggak bisa," paparnya.



Ia menduga, saat berkiprah di Surabaya itulah Ary mengenal Anggodo Widjaja. Dimana "pertemanan" di Kota Pahlawan ini berlanjut saat kakak Anggodo yaitu Anggoro bermasalah dengan hukum.



"Ya kalau Anggodo minta tolong dan percaya kepada Ary, wajar saja. Tapi saya sendiri nggak yakin kalau Ary punya jalur atau mengenal secara dekat dengan pimpinan KPK, kalau staf KPK bisa saja," ujarnya.



Salah seorang wartawan Surabaya Post era 1990-an, Darmantoko, mengaku pernah mendengar nama Ary Muladi menjadi rekanan Pemkot Surabaya sekitar tahun 1990.



"Dulu, saya sempat mendengar nama itu. Namun, saya tidak tahu rekanan dalam proyek apa?" katanya yang dahulu aktif meliput di Pemkot Surabaya.



Ia menerangkan, model rekanan di Pemkot Surabaya saat itu dibagi menjadi tiga, yakni rekanan besar dengan nilai proyek di atas sekitar Rp1 miliar, sedangkan rekanan menengah ke bawah dengan nilai proyek di bawah Rp500 juta.



Rekanan tersebut mengerjakan sejumlah proyek mulai dari pembangunan jalan, gali pipa, spesialis pipa, bangun gedung, serta pengadaan barang dan jasa.



Mantan Ketua Gabungan Pelaksana Konstruksi Indonesia (Gapensi) Jawa Timur, Somingan dan Ketua PDIP Jatim Sutjipto adalah sebagian dari rekanan besar Pemkot Surabaya, di era 1990-an.



"Bisa saja Ari masuk dalam rekanan besar itu," ucapnya.



Namun, lanjut dia, kemungkinan juga Ari masuk dalam rekanan khusus. Artinya rekanan yang secara administrasi diragukan, seperti halnya tidak ada namanya atau tidak memiliki status hukum (atau tidak dinotariskan).



Hal itu berbeda halnya dengan model rekanan pemkot yang ada saat ini. Menurut Darmantoko, model rekanan Pemkot Surabaya saat ini menggunakan "mobile procurement", yakni pengembangan dari "electronic Procurement" (e-Proc).



Sistem tersebut, lanjut dia, membuat rekanan pemkot tidak harus selalu di depan internet untuk mengakses informasi proyek-proyek pemkot yang sedang ditenderkan. Bahkan, mereka juga dapat mendaftarkan diri dan melakukan penawaran dengan mengirimkan SMS saja.



Komisi

"`Gendeng` (gila)!" itulah kata yang terucap dari seorang pria paruh baya, yang merupakan teman Ary semasa di Surabaya, saat mengetahui temannya itu menjadi pusat pemberitaan.



"Ya, saya mengenal dia saat pacaran dan menikah dengan Murti, janda tiga anak yang juga rekanan Pemkot Surabaya. Dengan Murti (61) Ary tidak punyak anak," katanya, mengungkapkan.



Ia menuturkan, saat menikah dengan Murti, ikut juga selamatan menempati rumah baru di Pondok Nirwana, salah satu perumahan elite di Surabaya.



"Ary itu supel dalam pergaulan, ganteng dan `pengusaha` lagi. Kalau dia mau jadi `playboy` bisa sekali. Tapi saya juga heran, kok dia malah menikahi janda tiga anak yang usianya tujuh sampai delapan tahun lebih tua dari dia," paparnya.



Pernah suatu hari ketika berada di Bandara Juanda Surabaya, bertemu dengan seorang istri menteri era orde baru, dan istri menteri itu saling sapa dengan Ary.



"Ketika saya tanya, kamu kenal Ri. Ya kenal sekali, dia itu mantan pacar saya," katanya sambil terbahak.



Salah seorang dokter gigi, tetangga Ary di perumahan Pondok Nirwana, menyatakan keheranannya atas ulah Ary tersebut.



"Edan! Nggak nyangka saya kalau Ary seperti itu. Saya tahunya dia pemborong, rekanan Pemkot Surabaya. Setelah pindah ke Jakarta, saya nggak pernah bertemu sama sekali," tuturnya.



"Ehhh, tahu-tahu muncul di TV jadi pusat pemberitaan, Ary itu `markus` dengan omzet miliaran rupiah lagi," katanya.



Menurut dia, tidak heran bila ulah pengusaha yang jadi rekanan seperti itu, mengandalkan komisi, pertemanan dan kedekatan dengan pejabat dalam meraih proyek.



"Rumahnya di sini (Pondok Nirwana) sudah disita oleh bank," katanya lirih

Sumber : antaranews.com


FENOMENA FACEBOOKERS

Posted by wiby | 6:38 PM


Melihat fenomenalnya gerakan facebookers belakangan ini, seorang kawan mengatakan bukan tidak mungkin nantinya facebookers akan menggulingkan seorang presiden. Berlebihan?. Tidakjuga. Mari kita lihat gerakan facebookers di Indonesia yang menurut saya sangat luar biasa. Anda ingat gerakan facebookers mendukung Prita Mulyasari dan yang terakhir erakan 1.000.000 Facebooker Mendukung Chandra Hamzah-Bibit Samad




Machmud Mubarok seorang Wartawan Tribun Jawa Barat berpendapat, Sedikit banyak, para facebooker berperan sebagai kelompok penekan. Perlu dicermati juga, pengguna Facebook kebanyakan adalah kelas menengah, mereka yang bekerja di kantoran, mahasiswa, dan kaum intelektual. Di beberapa negara, termasuk di Indonesia, kelas menengah inilah yang menjadi tulang punggung gerakan reformasi.





Tapi seperti normalnya sisi hidup manusia, fenomena facebookers ini di satu sisi bisa postif di sisi lain belum tentu juga berdampak baik. Saat sebuah gerakan dicetuskan, muncul pula gerakan tandingan. Lihat kasus Evan Brimob. Selain munculnya gerakan-gerakan yang menolak Evan ada pula yang mendukung. Fakta lainnya, fenomena gerakan-gerakan facebookers seperti ini tidaklah dapat dijadikan sebagai indikator. Artinya, coba anda tanyakan kepada member facebook yang bergabung dalam gerakan sejuta mendukung Chandra-Bibit. Apakah mereka benar-benar "pendukung". Toh mengklik "Gabung ke Grup" ini tak terlalu sulit.



Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji Kabareskrim Polri yang sudah mengundurkan diri menjadi sorotan media belakangan ini. Nyaris tiap hari media membahas kasus mantan kapolda Jawa Barat ini. Publik juga penasaran tentang profil pati bintang tiga tersebut.

Susno Duadji lahir di Pagar Alam, Sumatra Selatan 1 Juli 1954. Anak ke-2 dari depalan bersaudara ini lulus akpol tahun 1977. Ketika menjabat sebagai Kapolda Jabar suami dari Ny. Herawati ini, dikenal berdedikasi tinggi dalam memberantas pungli dan koprupsi.


Berikut riwayat karir Susno Duadji sebelum menjabat sebagai Kabareskrim Polri.


PAMA POLRES WONOGIRI (1978)PAMA POLRES WONOGIRI (1978)
KABAG SERSE POLWIL BANYUMAS (1988)
WAKA POLRES PEMALANG (1989)
WAKA POLRESTA YOGYAKARTA (1990)
KAPOLRES MALUKU UTARA (1995)
KAPOLRES MADIUN (1997)
KAPOLRESTA MALANG (1998)
WAKAPOLWILTABES SURABAYA (1999)
WAKASUBDIT GAKTIP DIT SABHARA POLRI(2001)
KABID KORDILUM BABINKUM (2001)
KABID BID RAPKUM DIV BINKUM POLRI (2002)
PATI (DALAM RANGKA TUGAS LUAR) FORMASI MABES POLRI WAKIL KEPALA PPATK) (2004)
KAPOLDA JABAR (2008)
Berikut itu merupakan riwayat jabatan pria yang telah berkeliling ke-90 negara lebih untuk belajar menguak korupsi tersebut.


Anda pasti sudah mendengar soal kisah kiamat di tahun 2012. Kalau belum cari dan tanyakanlah sama Mbak Google. Bahkan Februari lalu di media televisi hal ini sudah ramai dibicarakan .



Entah ada hubungannya atau tidak, kita tahu pula sutradara kondang Roland Emmerich sudah selesai menggarap film berjudul 2012 yang rencananya akan dirilis tanggal 13 Nopember ini.




Saya asli penggemar film. Boleh-boleh saja orang menghubungkan soal kiamat ini dengan "habis" nya kalender maya, atau juga bergesernya medan magnet bumi. Juga soal siklus badai matahari. Toh itu semua cuma opini manusia atau bahkan juga mungkin cuma hoax. Saya hanya menikmati filmnya saja, tak lebih. Saya penggemar Roland Emmerich sutradara kelahiran Stuttgart, Jer­man, 10 November 1955 ini. Lihat saja film besutannya yang sukses besar seperti Independence Day (1996) dan The Day After Tomorrow (2004). Trailer film 2012 sudah ada di youtube . Suka? Tunggu saja tanggal 13 Nopember nanti. Salam!



Banyak yang penasaran terhadap wanita yang disebut-sebut nama dan suaranya ada dalam rekaman KPK. Wanita yang konon kabarnya sudah tiga kali masuk penjara ini, dikenal dekat dengan pejabat penting di bidang hukum. Ong Yuliana Gunawan mengaku mengkonsumsi narkoba sebagai penambah tenaga berhubung profesinya sebagai pemijat?

Hmm....mungkin gak yah? Bahkan, Wakil Jaksa Agung Abdul Hakim Ritonga yang sekarang sudah mengundurkan diri diberitakan pernah minta "barang" kepada Yuliana. Yang "wah" Tim Pencari Fakta menyebutkan Yuliana dekat dengan orang dalam lingkungan istana. Hasil pencarian di google tentang informasi lengkap tentang Ong Yuliana Gunawan belum ada alias masih kaburrr. Atau sudah ada yang dapat? Eh, btw di fesbuk ada juga loh nama Ong Yuliana Gunawan, coba deh cari, bahkan ada nomor ponsel segala.


Jadi Pejabat Kok Miskin?

Posted by wiby | 6:09 PM


Sahabat saya di FB Suhunan Situmorang menulis status yang membuat saya manggut-manggut. Bunyi statusnya begini : "Di balik terungkapnya kebobrokan penegakan hukum itu, apakah masyarakat sadar bhw mrk pun punya andil? Sukses seorang hakim, jaksa, polisi, pengacara, pejabat, senantiasa diukur dari kekayaan materi! Mrk yg mencoba idealis, jujur, dikatakan bodoh, tak bisa memanfaatkan posisi! Ini dosa kolektif, kawan. Mari kita ubah kriteria sukses itu. Pujilah mrk yg mementingkan moral & integritas.".




Apa yang dibilang Bung Suhunan asli benar. Seratus persen tepat. Walau kadang kita terlalu munafik untuk mengakui. Kita akan salut, segan, sungkan kalo seseorang (pejabat) itu kaya. Kalau di rumah ibadah mungkin duduknya paling depan. Acara tak akan dibuka kalau dia belum datang.



Ironisnya, kita akan mencibir kalo ada pejabat yang bersahaja, biasa saja dan tak kaya. "Pejabat kok miskin, gak tau cari uang, bodoh!"



Mungkin anda akan bilang saya apatis. Barangkali anda juga akan berkata, "Ah..itu kan cuma ocehan Bung Nainggolan yang tak kunjung kaya"



Mungkin....



Untuk Lae Suhunan, thanks atas "inspirasinya"



Lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 3 November 1945. Menghabiskan masa sekolah di tanah kelahirannya, Bibit kemudian memilih untuk bergabung di Akademi Kepolisian dan lulus pada 1970. Setelah itu, 30 tahun lamanya Bibit mengabdi di kepolisian. Berbagai posisi teritorial pernah diembannya, di antaranya Kapolres Jakarta Utara, Kapolres Jakarta Pusat, Wakapolda Jawa Timur, dan Kapolda Kalimantan Timur.



Bibit pensiun dari kepolisian pada 15 Juli 2000 dengan pangkat terakhir Inspektur Jenderal. Atas jasa dan pengabdiannya selama bertugas, beliau mendapatkan berbagai bintang jasa dan penghargaan, di antaranya Satya Lencana Kesetiaan, Satya Lencana Dwidya Sista, Bintang Bhayangkara Nararya, Bintang Yudha Dharma Nararya, dan Bintang Bhayangkara Pratama.



Selepas pensiun dari dinas kepolisian, bapak empat orang anak ini tidak lantas berdiam diri. Kehausannya terhadap ilmu pengetahuan membuat Bibit kembali ke dunia kampus untuk mengambil gelar doktoral yang akhirnya diperoleh pada 2002. Selanjutnya, kegiatan mengajar sebagai dosen menyita waktunya. Beliau bahkan sempat menjabat sebagai Rektor Universitas Bhayangkara.



Pada 2007, Bibit mengikuti seleksi calon pimpinan KPK 2007-2011 dengan mengusung empat rambu pemberantasan korupsi, yaitu pemberantasan korupsi dalam bingkai hukum; tidak hanya represif, tapi juga membongkar akar masalah korupsi; urusan pemberantasan korupsi menjadi urusan semua kalangan; dan pengembalian kerugian negara. Komisi III DPR akhirnya memercayakan satu dari lima posisi pimpinan KPK kepada Bibit. Di KPK, Bibit menjabat sebagai wakil ketua yang membawahi bidang penindakan serta pengawasan internal dan pengaduan masyarakat.







Bergelut dengan kasus kejahatan memang sudah menjadi santapan hari-harinya. Meski sudah tiga puluh tahun di kepolisian dan pensiun, pria dengan buah hati empat orang ini, kini malah tetap bergelut dunia itu. Namun, kini kasus yang dihadapinya sangat berat, yaitu menumpas korupsi. ‘’Korupsi sudah menjadi masalah besar di negeri ini, dan sangat akut,’’ kata Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Rianto, Rabu (16/7) di Hotel Grand Zury, Pekanbaru.





PROFIL CHANDRA M HAMZAH

Posted by wiby | 6:44 PM


Saya penasaran dengan Chandra Hamzah, tokoh yang saat ini menjadi topik utama berita bersama rekannya Bibit Samad Riyanto. Saya mencoba mencari profil wakil ketua KPK non-aktif ini. Berikut tulisan yang saya ambil dari berbagai sumber tentang siapa Chandra M. Hamzah







Lahir di Jakarta, 25 Februari 1967, menamatkan pendidikan sarjana di tahun 1995 pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Selepas kuliah, pada 1998, beliau—yang semasa mahasiswa sempat menjadi komandan resimen mahasiswa dan Ketua Senat Mahasiswa Universitas Indonesia—membidani lahirnya Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK). Chandra memiliki sejumlah lisensi keahlian bidang hukum, yakni lisensi Konsultan Hak Kekayaan Intelektual, lisensi Konsultan Hukum Pajak, lisensi Konsultan Hukum Pasar Modal, dan lisensi Pengacara/Penasihat Hukum/Advokat.





Pimpinan KPK termuda ini pernah bergiat di YLBHI sebagai asisten pembela umum. Sempat pula bekerja sebagai staf hukum PT Unelec Indonesia (UNINDO). Setelah itu, Chandra memulai karier pengacara pada sejumlah firma hukum. Beberapa di antaranya adalah pada firma hukum Erman Radjaguguk & Associates, partner pada firma hukum Hamzah Tota Mulia, pengacara senior pada firma hukum Lubis Ganie Surowidjojo, dan partner pada Assegaf Hamzah & Partners.




Sebelum berkiprah di KPK, Chandra juga sempat berkutat dalam kegiatan memberantas korupsi saat menjadi anggota Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK) pada 2000-2001. Pada rentang waku yang sama, beliau juga ambil bagian dalam Tim Persiapan Pembentukan Komisi AntiKorupsi. Saat ini, beliau menjabat Wakil Ketua KPK yang membawahi bidang penindakan serta bidang informasi dan data.




Berikut isi transkrip rekaman yang diduga untuk mengkriminalisasi KPK.

Wisnu ke Anggodo (23 Juli 2009:12.15)

"Bagaimana perkembangannya."
"Ya, masih tetap nambahin BAP, ini saya masih di Mabes."
"Pokoknya berkasnya ini kelihatannya dimasukkan ke tempatnya R (nama salah satu pucuk pimpinan kejaksaan), minggu ini, terus bali ke sini, terus action,"

Anggoro ke Anggodo (24 Juli 2009:12.25)

"Yo pokoke saiki berita acarane dikompliti."
"Wis gandeng karo Ritonga kok de'e."
"Janji ambek Ritonga, final gelar iku sama kejaksaan lagi, trakhir Senen."
"...Sambil ngenteni surate RI-1 thok nek?"
"Lha kon takok'o Truno, tho."
"Yo mengko bengi, ngko bengi dek'e."


Anggodo ke Wisnu (30 Juli 2009:19.13)
"Pak tadi jadi ketemu?"
"Udah, akhirnya Kosasih yang tau persis teknis di sana. Suruh dikompromikan di sana, Kosasih juga sudah ketemu Pak Susno, dia juga ketemu Pak Susno lagi si Edi. Yang penting kalo dia tidak mengaku susah kita."
"Yang saya penting, dia menyatakan waktu itu supaya membayar Chandra atas perintah Antasari."
"Nah itu."
"Bukan Pak, dia memerintahkan nyerahken ke Chandra yang Bapak juga tahu kan karena kalo ga ada yang memerintah Chandra Pak, enggak nyambung uang itu Iho."
"Memang keseluruhan tetap keterangan itu, kalau Edi nggak ngaku ya biarin, yang penting Ari sama Anggodo kan cerita itu."
"Kan saksinya kurang satu."
"Saksinya akan sudah 2, Ari sama Anggodo."
"Saya bukan saksi, saya kan penyandang dana kan."
"Kenapa dana itu dikeluarkan karena saya disuruh si Edi kan, sama saja kan, ha-ha-ha...."
"Suruh dia ngakulah Pak, kalau temanan kayak gini, ya percuma punya teman."